About Me

Berbagi atau share (Inggris) bukan melulu soal uang dan harta, melalui tulisan-tulisan ini saya akan membagikan pengalaman-pengalaman kerja saya sebagai pelaut yang mulai berlayar sejak tahun 2005.
Di samping kembali mengaktifkan hobi menulis saya, saya juga ingin blog ini berkembang. Kritik dan saran dari pembaca adalah harapan dan motivasi buat saya, silahkan mengirimkannya via email atau DM akun instagram saya. Mucho gracias (Spanyol) untuk sahabat pelaut yang sudah mampir sekaligus mewarnai blog ini.

Awal Mula Jadi Pelaut

Bagaimana ceritanya seorang pengagum puisi ‘O, Amuk, Kapak’ (karya Sutardji Calzoum Bachri, red) memilih bekerja sebagai pelaut untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-harinya? Itulah secuil kisah saya, yang mana di saat menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas sebenarnya bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Jadi keputusan menjadi pelaut bukanlah sebuah pilihan, namun itu adalah sebuah takdir.

              Tujuan saya membuat blog ini adalah ingin memberikan informasi-informasi eksklusif seputar dunia pelayaran, di samping keinginan saya agar menginspirasi semua rekan-rekan pelaut yang membaca tulisan ini. Saya lulus ANT-3 di Akpelni Semarang pada tahun 2007, dan saya baru bisa meng-upgrade ijazah laut saya pada tahun 2019. So, selama membaca tulisan ini saya harap jangan pernah membahas perihal ijazah, karena sudah saya jelaskan di awal bahwa saya termasuk pelaut yang terlambat untuk kategori meng-upgrade ijazah, dua belas tahun baru bisa ambil ijazah ANT-2 adalah waktu yang lama bukan? Better late than never.

              Hingga saat ini saya tetaplah seorang hamba yang meyakini bahwa rezeki itu sudah diatur dan nggak bakalan ketuker, yang penting kita sudah berusaha secara maksimal. Jadi menurut saya, rezeki, pekerjaan dan pencapaian yang telah kita peroleh sama sekali tidak ada hubungannya dengan tingginya ijazah yang kita miliki. Contohnya kalau kita kerja di Middle East, orang Arab lebih mengapresiasi skill kita daripada ijazah laut yang kita miliki.

              Hari pertama saya masuk Akpelni, semua taruna diwajibkan mengikuti kegiatan Binafital atau lebih familiar disebut pembinaaan fisik dan mental. Berbekal tamatan sekolah menegah atas, saya tidaklah sekuat dan sebugar teman-teman lain yang notabene lulusan Sekolah Pelayaran Maritim (SPM). Saya tidak terbiasa lari berpanas-panasan sambil mengangkat ransel di punggung, push-up dengan posisi kedua tangan mengepal, maupun jungkir balik dan merayap di jalanan aspal yang penuh dengan kerikil-kerikil kecil. Di hari pertama itu, jujur saya sempat berujar dalam hati:

“Saya bisa mati kalau setiap hari pendidikannya seperti ini.”

              Hari demi hari saya lalui, dengan tekad dan semangat yang kuat saya bisa melalui pendidikan saya di Semarang hingga tamat. Apapun jenis pendidikan saat itu, sekejam apapun perlakuan instruktur dan senior saat itu, ujung-ujungnya semua sangatlah berguna dan efeknya dapat kita rasakan saat memasuki dunia kerja. Apalagi jargon kampus kami waktu itu adalah penakluk tujuh samudera.

              Dosen favorit saya selama kuliah di Semarang adalah Capt. Soepomo Soegeng, beliau dulunya adalah kapten kapal selam pertama di Indonesia. Pelajaran yang beliau ajarkan saat itu adalah ilmu pelayaran Astonomi. Di tengah pelajaran yang sulit dan sangat rumit kerap sekali beliau nyeletuk ‘asbun’ (asal bunyi, red) kepada taruna yang salah dalam menjawab pertanyaan yang beliau lontarkan. Atmosfer kelas yang tegang pun mendadak cair dan pecah oleh guyonan-guyonan beliau yang amat natural.    

              Pernah, suatu ketika beliau menyelipkan pelajaran isyarat visual di dalam materi kuliahnya. Beliau bertanya kepada taruna huruf O, N, E dalam pelajaran isyarat visual dieja bagaimana? Serentak taruna dalam kelas menjawab:

“Oscar, November, Echo.”

              Lalu beliau menjawab:

“Benar, terus Oscar-November-Echo dibacanya apa ?”

              “One.” jawab kami serentak, dan ternyata jawaban itu salah.

              Dengan sedikit ragu-ragu kami mengulangi jawaban tadi, dan kembali beliau menyatakan bahwa itu salah, teryata Oscar-November-Echo itu dibaca one (kalau dalam bahasa Indonesia dibaca wan, red). Seisi kelas baru ngeh kalau jawaban yang dimaksud adalah ejaan bahasa Inggrisnya. Tak lama berselang seisi kelas pun tertawa riuh, kami baru menyadari kalau pertanyaan itu adalah pertanyaan jebakan, pertanyaan yang membagongkan kalau meminjam istilah netizen jaman now.

This is the heading

Pendidikan Saya

1 TK Dharma Wanita - Banyuwangi

Tahun 1989 - 1991

2 SDN Kepatihan 3 - Banyuwangi

Tahun 1991 - 1997

3 SLTPN 1 Banyuwangi

Tahun 1997 - 2000

4 SMUN 1 Glagah - Banyuwangi

Tahun 2000 - 2003

5 Politeknik Bumi Akpelni - Semarang (ANT-3 & Diploma)

Tahun 2003 - 2007

6 STIP - Jakarta (ANT - 2)

Tahun 2019 - 2020

7 STMT Malahayati Jakarta (S1 Manajemen Transportasi)

Tahun 2019 - 2021

#larospopeye

I'M AN ORDINARY SEAMAN

.

CONQUEROR OF THE SEVEN SEAS