Di saat orang-orang kerja offshore sudah menggunakan ijazah-ijazah tinggi, tahun 2016 saya diterima kerja di sebuah perusahaan Brunei Darussalam hanya bermodalkan ijazah ANT-3 saja. Eits, tidak semudah itu kawan, karena sebelum kita join di atas kapal kita diwajibkan lulus Set Test terlebih dahulu. Materi yang diuji dalam Set Test berupa soal-soal pilihan ganda yang dikerjakan dengan komputer dengan durasi waktu tertentu, dan apabila lulus tes komputer, tes berikutnya adalah tes oral atau wawancara dengan kapten-kapten Brunei Shell, atau biasa disebut SMR (Service Marine Resource) kapten.

              Pagi itu saya diantar DPA ke kantornya SMR untuk mengikuti Set Tes. Setelah selesai tes komputer, selanjutnya saya akan mengikuti tahapan tes oral. Dan sebelum memasuki ruangan tes, saya teringat akan pesan kawan-kawan saya bahwa kalau yang mengetes kita orang Melayu itu akan mudah, Insha Allah mereka akan membantu kita.

              Tibalah saya membuka pintu ruangan tersebut, begitu masuk ruangan saya langsung dapat sambutan jabat tangan seorang kapten Russia bernama Capt. Victor. Fix, Capt. Victor yang akan menguji saya untuk tes oral. Tak lama berselang beliau melontarkan sebuah pertanyaan yang menurut saya kurang jelas, karena intonasi dan dialek bahasa Inggris-nya orang Russia sangat aneh dan tidak dapat saya mengerti.

              “Gas detector jawabanya.“ ujar Capt. Victor.

Dari jawaban tersebut barulah saya tahu bahwa pertanyaan yang diajukan kepada saya tadi kurang lebih adalah alat apa yang kita gunakan sebelum kita melakukan pekerjaan di area confined space? Terlambat, saya gagal, saya harus mengulang Set Test delapan hari kemudian.

              Dari kantor SMR saya kembali diantar DPA ke staff house atau rumah singgah yang disediakan oleh perusahaan untuk menampung kru yang akan join diatas kapal maupun yang mau pulang untuk bercuti. Saya lupa hari keberapa, yang jelas saat itu General Manager datang ke staff house untuk menemui saya. Dalam perbincangan singkat antara kami, General Manager sempat berpesan:

“Kamu kan muslim, biasanya umat muslim ada ibadah tambahan shalat malam, lakukanlah sewaktu kamu kesusahan atau mempunyai hajat.”

Ucapan beliau bak petir di siang bolong, bagaimana mungkin General Manager yang notabene umat nasrani memberikan nasehat seperti itu? Sejak hari itu, selama menunggu Set Test kesempatan yang kedua saya tidak pernah belajar, buku-buku tebal tentang aturan-aturan kerja di Brunei Shell maupun kisi-kisi soal yang dirangkum oleh kantor benar-benar tidak pernah saya sentuh. Sebagai gantinya, saya mengerjakan sholat sepertiga malam setiap harinya.

              Saat Set Test yang kedua kalinya, alhamdulillah saya dinyatakan lulus, yang memberi kelulusan tes saat itu adalah seorang kapten dari India (saya lupa namanya, red). Seingat saya kapten India tersebut dulunya kerja bertahun-tahun di offshore sebagai Barge Master. Untuk kesekian kalinya saya membuktikan bahwa keajaiban sholat tahajud itu benar-benar nyata, terima kasih Ya Allah, terima kasih engkau telah mengatarkan malaikat penolongku (General Manager perusahaan). Ya Allah, berkat petunjuk dari beliau saya lulus Set Test, auto diterima kerja di Brunei Shell. Dan itu artinya dapur keluarga saya masih ngebul setelah beberapa bulan saya berpredikat sebagai pengangguran.

              Saya cukup beruntung bisa bekerja di Brunei Shell, karena kerja disana standar safety-nya sangat tinggi, mungkin hingga saat ini safety di Brunei Shell masih yang terbaik diantara kerja offshore di negara-negara Asia lainnya. Slogannya saja “You and I will go home safely.”

              Pada dasarnya watak orang Melayu adalah senang menggurui, jadi kalau mau awet kerja disana terkadang kita harus pura-pura bodoh saja kalau dikasih pertanyaan. Walaupun sebenarnya bisa menjawab pertanyaan tersebut, sesekali jadilah seekor Bunglon yang tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar.

Tips yang kedua kita manut atau menjadi pribadi penurut. Kalau jumpa SMR kapten kita nurut saja, nggak pernah membantah ataupun adu argument dengan mereka. Lakukan dua tips ini selama kerja di Brunei, dijamin teman-teman akan awet kerja disana, atau bahkan teman-teman akan disenangi oleh kantor maupun SMR kapten.

              Selama kerja di Brunei saya tipikal kru yang ngggak pilih-pilih kapal. Alhasil semua armada kapal yang dimiliki perusahaan pernah saya naiki. Sehingga rekan kerja dan teman saya otomatis semakin banyak, dan hingga pada akhirnya saya sempat ditempatkan di kapal survey. Sebuah kapal survey satu-satunya yang beroperasi di Brunei kala itu, dan sekali lagi hanya bermodalkan ijazah ANT-3. Saya suka tantangan, alhamdulillah saya juga dapat pengalaman baru disana. Sebagai gambaran untuk deck department di kapal survey yang paling penting adalah pegang steering, kita harus mahir atau menguasai pegang stering kapal, terutama saat towing atau survey dimulai. Kalau kita bawa steering nya belok-belok, sudah dapat dipastikan next port call pengganti kita sudah ada.

              Hanya orang-orang pilihan yang mempunyai kesempatan bekerja diatas kapal survey. Kita harus mempunyai keseriusan dalam bekerja, disiplin tinggi serta mempunyai kecakapan pelaut yang baik.

Leave A Comment