Kala Durian Dan Mentimun Bertemu Di Atas Kapal

Bukan bermaksud menggurui, artikel berikut sangatlah penting bagi pelaut yang baru akan memulai kerja di sebuah perusahaan. Dan bukan hanya itu saja, di dalam artikel ini juga terselip sebuah resep agar seorang pelaut bisa awet bekerja di sebuah perusahaan. Intinya saya akan menceritakan petuah-petuah dari pelaut yang ada dalam circle pertemanan saya, yang mana petuah tersebut berdasarkan pengalaman kerja mereka yang panjang dan benar-benar tidak terpikirkan sebelumnya.

  • Filosofi sebuah pulpen

Bagi seorang pelaut pulpen adalah benda kecil yang tidak asing dalam kegiatan kerja setiap harinya, bahkan ada juga tipe pelaut yang selalu membawa atau menyelipkannya di pakaian kerja (wearpack, red) sepanjang hari. Sekarang coba angkatlah sebuah pulpen dengan kedua jari kita, terasa ringan bukan? Namun, bagaimana kalau kita berat hati atau tidak ikhlas dalam mengangkat pulpen tersebut. Pulpen akan terasa berat bukan?

Begitulah dalam dunia kerja, pekerja yang profesional harus senantiasa memiliki keikhlasan di hatinya. Ikhlas terkesan mudah untuk diucapkan namun kenyataannya sulit untuk dilakukan, namun kita tetap harus berusaha dan melatih diri untuk selalu berbuat ikhlas di setiap kesempatan. Bekerja dengan ikhlas sesungguhnya identik dengan mencari keberkahan hidup.

Kejarlah mimpi-mimpimu yang ada di atas langit, dan ingatlah selalu bahwa semua usaha itu tidak akan mengkhianati hasil. Dewasa ini pelaut yang bijak adalah pelaut yang bekerja penuh dengan keikhlasan, hingga pada akhirnya cucuran keringat kita saat bekerja merupakan gambaran keberkahan akan rezeki yang kita peroleh.

  • Filosofi durian dan mentimun

Sebenarnya filosofi yang satu ini hanya diperuntukkan bagi pemimpin-pemimpin di atas kapal. Dengan jiwa kepemimpinan yang sudah terasah, suatu saat pemimpin pasti dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ibaratnya sebuah perusahaan pelayaran adalah buah durian, sedangkan pemimpin di atas kapal adalah mentimun. Apabila posisi pemimpin (mentimun) berada di bawah dan durian berada di atas, maka mentimun akan hancur oleh duri-duri buah durian yang tajam. Bagaimana kalau seorang pemimpin (mentimun) sedang melunjak atau berada di atas, sedangkan buah durian berada di bawah, dan sejurus kemudian mentimun dijatuhkan ke arah durian? Mentimun akan tetap hancur bukan?

So, sebagai pimpinan kita dilarang sombong dan takabur. Mengapa demikian? Karena pada saat posisi kita di atas maupun di bawah, pada akhirnya kita tetap dikalahkan oleh perusahaan. Karenanya kita dituntut untuk selalu bijak dalam mengambil keputusan, karena bagaimanapun kita memegang amanat yang telah diberikan perusahaan.

Dalam konteks ini, mungkin pepatah kuno pelaut yang mengatakan bahwa di laut kita jaya adalah tidak benar. Karena sejaya-jayanya posisi kita di kapal, kita tetaplah buruh di mata perusahaan. Sudahlah kawan…..yang terpenting kita kerja smart saja, tidak menjilat, dan mempunyai misi menyelesaikan kontrak kerja yang ada. Gitu aja kok repot?     

Leave A Comment