Pertengahan tahun 2021 alhamdulillah saya diterima kerja di Iraq, tepatnya di Al-Basra oil terminal. Untuk kesekian kalinya saya bisa diterima kerja disana bermodalkan alamat email perusahaan yang diberikan oleh teman lama saya. Itulah salah satu keuntungannya banyak teman, banyak teman otomatis banyak rezeki. Sebenarnya tahun 2020 saya nyaris bekerja di perusahaan besar Singapore yang juga beroperasi di Al-Basra oil terminal. Bahkan disela-sela interview, pihak perusahaan mengatakan bahwa nanti pihak management kami akan menghubungi anda  untuk membicarakan masalah kontrak kerja. Sehari, dua hari, tiga hari hingga seminggu pihak management tidak pernah menghubungi saya, hingga pada akhirnya saya join di perusahaan lain yang benar-benar membutuhkan saya waktu itu. Setelah kerja di perusahaan lain selama satu kontrak, akhirnya pada tahun 2021 saya benar-benar bekerja di atas kapal yang beroperasi di Iraq, meskipun kali ini bukan dengan perusahaan Singapore. So, Allah SWT itu tetap mengabulkan do’a saya, Allah SWT hanya menunda impian saya untuk bekerja di Iraq selama kurun waktu satu tahun.

Bekerja di Iraq adalah salah satu hal luar biasa yang pernah saya alami seumur hidup. Disana saya dipertemukan dengan pelaut-pelaut senior yang hebat dan inspiratif. Ada tugmaster yang handal dalam bermanuver, ada pelaut yang sangat taat agamanya, ada juga pelaut yang jago berbisnis. Sebut saja Capt. Joseph Matheus (alumni PIP Makassar angkatan pertama), dia adalah pelaut Indonesia pertama yang bekerja di perusahaan tersebut, dan hingga tulisan ini saya tulis, sekitar 80% lebih kapten-kapten yang bekerja disana adalah pelaut-pelaut Indonesia. Pelaut Indonesia jaya, merah putih terus berkibar di Iraq, hidup pelaut-pelaut tangguh di Al-Basra oil terminal!

        Capt. Joseph Matheus, bukan sekedar tugmaster senior. Dimata saya beliau juga merangkap sebagai motivator bisnis yang ulung. Jadi setiap kita jumpa yang dibicarakan bisnis melulu, hal yang hampir tidak pernah  dibahas saat pelaut-pelaut Indonesia berkumpul (di negara lain, red). Ucapan beliau yang hingga saat ini masih saya ingat adalah jangan meremehkan usaha warteg, anggap sebuah warteg di Jakarta  omsetnya  200 ribu rupiah per hari, kalau punya sepuluh cabang warteg sudah berapa keuntunganya dalam sehari? Kalau sebulan?

            Di penghujung kepulangan saya di perusahaan tersebut, pada suatu hari Senin saya diundang oleh Site Manager untuk naik ke Riviera-1. Rivieria-1 adalah sebuah jack-up barge yang digunakan sebagai tempat tinggal pandu-pandu yang bekerja di Al-Basra oil terminal, sekaligus digunakan sebagai kantor bagi perusahaan kami. Di atas Riviera-1, Site Manager menawarkan saya untuk kerja di Riviera-1, saya pun bingung karena saat itu posisi saya sudah 8 bulan kerja (padahal kontrak kerja di agreement 6 bulan). Dengan halus saya tolak tawaran kerja dari Site Manajer, waktu itu saya spontan menjawab saya mau dengan tawaran kerja tersebut asalkan pulang ke Indonesia terlebih dahulu dan diberi kontrak kerja selanjutnya (kerja di Riviera-1, red) dengan durasi empat bulan.

       Akhirnya peluang emas untuk kerja di jack-up barge saya sia-siakan karena keadaan dan pertimbangan yang matang. Padahal kalau tawaran kerja tersebut saya ambil, saya menjadi orang Indonesia pertama yang bekerja di Riviera-1, karena selama ini mereka selalu memakai pelaut-pelaut Ukraina.

“Andai saja saat ini posisi saya masih bujang.” gumam saya dalam hati.

Leave A Comment