Sedemikian Rumitnya Kapal Survey (Bagian Kedua)

Di kapal survey, tiap satu jam atau dua jam sekali kita harus ‘broadcast’ di VHF channel 16 untuk memberikan informasi mengenai kegiatan survey kita, sehingga kapal-kapal  yang beraktivitas di sekitar tetap menjaga jarak dengan kapal kita. Aturan ini tidak baku sih, nggak harus menunggu satu jam. Dalam artian apabila di sekitar kapal kita ada kapal lain yang berpotensi mengganggu kegiatan survey kita (memotong haluan atau mendekati alat survey yang sedang kita towing), kita harus  ‘broadcast’ saat itu juga.

                Sebagai contoh saat saya bekeja di Brunei Shell yang mana ‘working channel’ disana adalah VHF channel 15. Ketika saya bekerja di kapal survey dan kapal tersebut sedang beroperasi, maka saya akan ‘broadcast’ di VHF channel 15. Ini keren bro, suara kita saat ‘broadcast’ akan didengar oleh kapal-kapal seantero Brunei. Walaupun pelaut Filipina dimana-mana terkenal yang paling suka main radio/berisik di radio (Indonesia nomer dua, red), saya tetap bangga. Itu sedikit cerita kalau kita bekerja sebagai perwira deck di kapal survey, bagaimana kalau jadi kapten?

                Kalau menjadi kapten di kapal survey, adakalanya kita akan bermanuver hanya dengan jarak 2 atau 3 meter dari ‘platform’ (padahal kondisi kapal sedang towing ‘side scanner’). Spot jantung dan penuh resiko? Tentu saja bro, so jangan heran kalau gaji kapten di kapal survey jumlahnya selangit.

                Setelah di artikel sebelumnya saya membahas tentang komunikasi antara kapal seismic survey dan kapal escort, di kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai ‘deploy’ alat-alat seismic beserta ‘recovery’ alat-alat seismic yang hilang.

                Hal-hal yang harus diperhatikan saat ‘deploy’ (penyebaran alat-alat seismic ke laut), antara lain:

  • Selama penempatan peralatan, secara rutin kita periksa area tersebut untuk mencari pelmpung, penghalang, jaring ikan atau puing-puing lainnya yang mungkin membahayakan ‘side scanner’ atau peralatan penarik dari kapal seismic.
  • Laporkan segera setiap penampakan ke kapal seismic.
  • Selalu menjaga radar dan pengawasan visual terhadap lalu lintas laut, penghalang dan bahaya.
  • Saat bergerak dari depan kapal seismic ke posisi belakang ‘tail buoy’, jagalah jarak yang aman dari kabel untuk menghindari kerusakan pada kabel dan untuk menghindari timbulnya kebisingan akustik yang berlebihan pada rekaman seismic.
  • Kapanpun diinstruksikan atau kapanpun ada kesempatan, periksa ‘tail buoy’ terhadap terbalik, rusak, serpihan.

Hal-hal yang harus diperhatikan saat pemulihan alat-alat seismic yang hilang, diantaranya:

  • Jika terjadi kehilangan bagian manapun dari peralatan seismic yang ditarik, tugas pertama ‘support vessel’ adalah menemukan atau melacak peralatan seismic yang hilang tersebut.
  • Harus ada Risk Assesment/Job Safety Analyst untuk recovery peralatan di ‘support vessel’.
  • Tergantung pada cuaca dan peralatan deck yang tersedia, peralatan yang hilang harus diambil kembali oleh ‘support vessel’ jika sudah aman.
  •  Jika ‘recovery’ tidak aman atau tidak dapat dilakukan, ‘support vessel’ harus memastikan bahwa barang tersebut diberi tanda yang mencolok, dan peringatan navigasi dikeluarkan jika perlu.
  • Pemulihan peralatan towing yang hilang dan rincian bobot kotor serta titik angkatnya harus didiskusikan pada ‘meeting’ awal. Uraian mengenai peralatan tersebut dapat dilihat pada manual ‘support vessel’ atau pada dokumen ‘bridging’.

Leave A Comment