Suka Duka Pelaut Kala Bekerja Di Negri Orang

Yups, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan duka pelaut (saat ini) terlebih dahulu, karena hal ini dampaknya sangat terasa dibandingkan jika kita berlayar tahun 2000-an, atau berlayar lima tahun yang lalu misalnya. Terlebih saat ini eranya pandemi, tidak bisa dipungkiri efeknya sangat terasa bagi pelaut karena banyak aturan-aturan baru yang diterapkan baik pada saat kru mau sign on, sign off dan selama kontrak kerja kru berjalan.

                Tahun 2023 pelaut Indonesia nggak bisa nego gaji. Ini bukan sekedar argumen saya pribadi, tapi faktanya banyak pelaut di luaran sana yang berpendapat sama seperti saya. Banyak faktor sih yang mempengaruhi fakta ini, kalau boleh saya berbicara bahasa kasar (maaf), saat ini pelaut-pelaut Indonesia sudah tidak ada harganya, harga diri pelaut Indonesia mulai menurun dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Kalau saya pribadi, terus terang baru saja mengalaminya sekitar seminggu yang lalu, dimana ada sebuah ‘job offer’ dengan bayaran cukup menggiurkan yang membuat saya tertarik dengan tawaran kerja tersebut. Namun, rasa kekecewaan saya mulai muncul saat interview dimulai, yang mana pertanyaan pertama yang dilontarkan crewing adalah kenapa anda mau mencoba bergabung dengan perusahaan baru? Saya pun menjawab pertanyaan klasik ini dengan jawaban dan alasan yang sama sekali tidak menjelekkan perusahaan terakhir saya, tetapi crewing menanggapinya dengan tiba-tiba menurunkan gaji saya (dari gaji awal yang semula disodorkan crewing kepada agensi di Jakarta, red). Ini aneh men? Mereka tidak konsisten, selalu ada alasan crewing untuk menurunkan gaji kru Indonesia yang konon jumlah pelautnya semakin membludak tiap tahunnya. Dan menurut saya (lagi), alasan-alasan dari crewing tersebut sangatlah tidak masuk akal.

                Cerita ini baru berkisar pada gaji yang jumlahnya diturunkan dari ‘salary list’ yang semula disodorkan crewing sebuah perusahaan kepada agensi, lantas bagaimana dengan nasib kru yang sudah join atau sudah join beberapa kontrak dan minta gajinya dinaikan? Permintaan kenaikan gaji mereka bisa dikarenakan faktor lokasi atau area pelayaran yang berbahaya, atau karena faktor mengerti kondisi crewing yang sudah kesulitan mencari pengganti kru yang mau sign off (ditambah lagi kru yang mau sign off tadi statusnya sudah ‘overdue’ di atas kapal, red), ataupun faktor-faktor lainnya.

                Jawabannya adalah sulit, boro-boro mau naik, setahu saya saat ini banyak perusahan-perusahaan yang malahan menurunkan standar gajinya. Kenapa tidak? Selama masih ada pelaut-pelaut Indonesia yang mau digaji murah, hal ini bukanlah suatu masalah besar bagi sebuah perusahaan pelayaran.

                Duka pelaut kala bekerja di negri orang yang berikutnya adalah jauh dari keluarga. Pelaut Indonesia mayoritas memiliki rasa ‘home sick’ yang lumayan tinggi dibandingkan pelaut-pelaut negara Asia lainnya, karenanya banyak pelaut-pelaut Indonesia yang putar haluan untuk bekerja di kapal-kapal offshore, karena sebagaimana kita ketahui bersama kerja di kapal offshore itu durasi kontrak kerjanya jauh lebih pendek dibandingkan kerja di atas kapal jenis lainnya. Walaupun demikian, sebagai pelaut adakalanya kita tidak bisa menghadiri acara-acara penting keluarga. Meskipun kita sudah minta ijin ke kantor jauh-jauh hari untuk menghadiri acara penting di rumah, kenyataannya masih ada peluang kita bakal absen untuk menghadiri acara tersebut. Bisa jadi pada saat pelaksanaan acara posisi kapal kita masih di tengah laut/masih berlayar, bisa jadi ada kondisi-kondisi lain di atas kapal yang tidak memungkinkan kita untuk pulang.       

                Berikutnya mengenai pandemi Covid-19 yang imbasnya sangat terasa bagi semua sektor, termasuk dunia maritim. Dari awal pandemi, pengeluaran pelaut jadi bertambah lantaran PCR test wajib dilakukan sebelum kita join dan kebanyakan biayanya tidak ditanggung oleh perusahaan. Belum lagi kita diwajibkan melakukan karantina sebelum dan sesudah naik kapal, dengan adanya peraturan ini otomatis durasi kerja kita tambah lama dikarenakan lama waktu kita karantina tidak diakumulasikan dengan kontrak kerja kita. Kalau untuk saat ini efek lanjutan dari karantina adalah kebanyakan perusahaan memberlakukan aturan gaji kita dibayar hanya 50% dari gaji sebenarnya selama belum join di atas kapal (selama standby di hotel), gaji akan dibayar normal kembali 100% tatkala kita sudah mulai bekerja di atas kapal. Ini semacam simbiosis mutualisme antara perusahaan dan kru kapal, padahal sebelum adanya pandemi gaji kita sudah genap dihitung 100% meskipun kita masih standby di hotel. Yang paling terasa efeknya apabila kita kerja di kapal crewboat atau kapal penumpang, dan disaat yang bersamaan kita memuat penumpang yang terjangkit positif Covid-19. Tentunya kru kapal akan bekerja ekstra untuk menangani penumpang spesial tersebut, dengan cara mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan oleh pencharter ataupun perusahaan. Di samping itu kita harus waspada setiap saat agar tidak tertular virus Covid-19 yang dibawa oleh penumpang tersebut. Ngeri sekali kan? Begitulah pelaut, dalam kondisi apapun harus tetap bekerja. Tetap semangat rekan-rekan pelaut, sungguh mulia pekerjaanmu wahai pelaut Indonesia.

                Duka pelaut berikutnya adalah masalah cuaca, cuaca ekstrim yang berubah sewaktu-waktu di suatu wilayah membuat pelaut mau tidak mau harus bisa beradaptasi secepatnya. Belum lagi kalau kita bekerja di daerah yang dingin/bersalju atau di daerah yang panas/dekat dengan gurun pasir, membawa  perbekalan tambahan sebelum bekerja berupa obat-obatan dan vitamin adalah pilihan yang bijak. Duka yang terakhir adalah masalah adaptasi makanan. Sering di atas kapal koki kita bukanlah orang Indonesia, sehingga masakan-masakan yang dia sajikan bukan masakan selera nusantara. Kalau sudah berkumpul dengan koki yang demikian, biasanya dalam beberapa bulan kerja saja kita sudah kangen dengan makanan khas Indonesia, seperti: tempe, gado-gado, sate dan bakso. Saya mau bercerita sedikit tentang pengalaman saya sewaktu kerja di Korea Selatan dulu, sejak onboard di atas kapal saya sudah pesan kepada koki saya orang Filipina bahwa saya muslim dan tolong jauhkan makanan saya dari yang haram-haram. Memang benar, setiap koki memasak daging babi, dia selalu menyiapkan saya daging ayam. Tapi suatu ketika saya tidak sengaja memergoki koki sewaktu memasak di dapur, memang dia menyiapkan saya masakan ayam, tetapi pada saat memasaknya dia mencampurkan daging ayam saya dengan daging babi dalam kuali yang sama, kuah dan bumbu yang sama pula. Busyet, sudah kebayang kan bagaimana rasanya kalau kerja dengan kru se-kapal yang merupakan campuran dari beberapa negara? Alhamdulillah, kalau sekarang sih saya masih mempertimbangkan masalah makanan sebelum kerja di suatu perusahaan baru. Intinya, hindari makanan halal yang bercampur dengan makanan yang dilarang oleh agama Islam. Masih banyak kok perusahaan yang menyediakan makanan halal di atas kapal.

                Dari awal hingga akhir artikel ini saya hanya menceritakan duka-duka pelaut saja, bagaimana dengan suka (kesenangan-kesenangan) pelaut saat bekerja di negri orang? Rasa-rasanya tidak perlu saya terangkan lagi. Gambarannya tinggal kita letakkan cadet atau pelaut pemula ke kapal-kapal yang rutenya ke luar negri, satu bulan kemudian tinggal kita tanyakan kepada mereka mengenai kesenangan-kesenangan mereka selama kerja. Saya yakin mereka bisa langsung menjelaskannya secara gamblang.

Leave A Comment